CCTV Pembobol ATM dapat ,mengungkapakan siapa pembobol ATM yang telah meresahkan masyrakat kita selama ini. Semoga saja Polisi segera dapat mengungkap semua kejahatan terhadap ATM para Nasabah Bank di tanah air kita itu. Polri menduga adanya keterlibatan orang dalam atau insider pada kasus pembobolan saldo rekening nasabah perbankan melalai anjungan tunai mandiri (ATM).Polisi dan perbankan juga tengah membahas sistem pengamanan baru. Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Ito Sumardi mengatakan, yang dimaksud dengan insider itu bisa orang dalam bank seperti petugas pengisi mengisi ATM atau teman dekat korban. ”Karena kok bisa tahu.
Pembobol ATM tanpa tahu kode kodenya tidak mungkin,” ungkap Ito. “Bisa karena keteledoran nasabah yang memberi nomor PIN (personal identification number),” imbuhnya. Dari hasil penyidikan sementara dan dilihat dari modus operandi yang dilakukan pelaku diduga lebih satu orang. Menurut dia, modus yang dilakukan merupakan cara lama,yakni menggunakan PIN milik nasabah. Meski demikian tidak menutup kemungkinan adanya pemasangan alat di mesin ATM. Jenderal polisi bintang tiga ini menjelaskan, modus yang dilakukan yakni memasang alat skimming (gesek) di mulut ATM.
Modus lainnya yakni dengan memakai alat yang bisa menyerap PIN atau taping (merekam). Caranya pelaku berpura-pura antre di belakang dan beraksi setelah nasabah selesai menggunakan PIN nya. Beberapa waktu lalu belasan nasabah perbankan di Bali termasuk warga negara asing mengaku rekeningnya dibobol. Kerugian mencapai miliaran rupiah. Kasus pertama diketahui pada 16 Januari 2010 lalu.
Diduga masih banyak nasabah yang belum melaporkan kasus pembobolan dana rekening melalui ATM ini. Sedangkan untuk langkah antisipasi, Polri dalam waktu dekat mengagendakan pertemuan dengan otoritas perbankan untuk membuat suatu sistem pengamanan baru. Salah satunya membahas pemindaian sidik jari untuk mengakses ATM. ”Sehingga tidak ada lagi yang dititipkan PIN-nya. Yang akan merugikan kita,”kata Ito. Terkait kedatangan perwakilan Bank Central Asia (BCA) Dwi Arini ke Bareskrim, Ito menjelaskan, kedatangannya untuk bekerjasama dengan Polri.
”Itu undangan dari kepolisian, karena masalah ini banyak menimpa nasabah BCA, selain mempelajari modus operandinya bersama mereka juga mengaudit sistem pengamanan di alat ATM milik mereka, ”ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, mereka sangat kooperatif bahkan sudah ada jaminan penggantian dari pihak BCA yang diakibatkan oleh kejahatan ini.”Mereka akan memberikan jaminan penggantian jangan sampai ada lost trust (kehilangan kepercayaan) kita berharap sesegara mungkin dapat mengungkap itu,”kata Ito.
Pihaknya juga akan menyampaikan kelemahan-kelemahan dalam sistem yang memungkinkan ini dimanfaatkan untuk membobol ATM. Disinggung soal keterlibatan mafia dari Rusia, Ito mengaku masih melakukan pengembangan dan membuka data-data lama. Sebab, sebagian dari mafia Rusia sudah dikeluarkan. ”Sebagian pelaku-pelakunya kita pelajari karena modus operandinya sama dengan yang lama.
Maka dilakukan operasi kembali. Apakah ada keterlibatan mereka dalam kasus pembobolan dana nasabah yang terjadi di Bali. Itu sudah lama,kami coba lihat keterkaitannya dengan modus di Bali. Kita menyelidiki sama-sama dengan pihak bank,”katanya. Kemarin Bareskrim Mabes Polri juga menerima dua laporan dari Jakarta tentang kasus pembobolan rekening.
Dua nasabah yang mengaku uangnya raib tersebut masing-masing sebesar Rp70 juta dan Rp56 juta. Dari hasil penyidikan penarikan dilakukan di Bali dan Medan,Sumatera Utara. Lebih jauh dia mengimbau kepada para nasabah yang memiliki rekening di ATM bank-bank tertentu untuk melakukan pengecekan saldo sekarang. Jika ada transaksi atau penarikan yang mencurigakan segera dilaporkan.Sehingga bisa dilakukan langkah-langkah untuk mempelajari modusnya.
Kapoltabes Denpasar Komisaris Besar Polisi Gede Alit Widana mengatakan,pihaknya sudah menyita skimmer dari sejumlah ATM di Denpasar dan Kuta.“Rata-rata ATM yang dipasangi skimmer tidak dijaga satpam ataupun dilengkapi CCTV (close circuit television),”katanya kemarin. Widana menduga skimmer itu dipasang pelaku pada malam hari saat kondisi ATM sudah sepi.
Dengan alat semacam chip ditambah kamera pengintai itu, pelaku dapat mendeteksi gerakan jari nasabah saat menekan nomor PIN.Setelah mendapat data,pelaku kemudian mencetak kartu ATM palsu dan membobolnya. Melihat modus itu, Widana memastikan pelaku tidak beraksi sendirian, melainkan sebuah sindikat. Ditanya apakah pelaku satu jaringan dengan sindikat pembobol kartu ATM di sejumlah negara seperti Australia, Rusia dan Kanada,Widana belum bisa memastikan.
“Kita masih selidiki apakah ini sindikat internasional,” imbuh dia. Perwira Polisi melati tiga ini menambah kan, dari 15 laporan yang masuk, 14 laporan di antaranya dinyatakan sebagai kasus pembobolan dengan total jumlah kerugian mencapai Rp522,3 juta. Selain di Denpasar dan Kuta, kasus pembobolan itu juga menimpa nasabah di Gianyar dan Klungkung. Di Bali, Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah nasabah yang menjadi korban pembobolan rekening bank mencapai 200 nasabah dengan total kerugian mencapai Rp2 miliar.
Pimpinan BI Denpasar Jeffrey Kaiurupan dalam keterangan persnya, kemarin mengatakan kasus pembobolan dana nasabah di Bali terjadi di enam bank, yaitu BCA, BNI, Bank Mandiri, Bank Permata, BII dan BRI.“Paling banyak ditemukan di BCA,mencapai 55 kasus,”katanya. Seperti dugaan polisi, Jeffrey menduga kasus pembobolan dana nasabah itu dilakukan menggunakan sistem skimming. Dengan sistem itu, pelaku bisa merekam PIN nasabah. Selanjutnya pelaku mentransfer ke rekening lain melalui internet.
Bank Lengkapi Anti- Skimming
Untuk mengantisapasi pembobolan lagi, beberapa perbankan kini mulai melengkapi mesin ATMnya dengan alat anti-skimming. Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Felia Salim mengatakan, sejak kemarin malam petugas ATM Regional Center (ATMRC) BNI telah melakukan pemeriksaan di seluruh ATM perseroan, untuk mengantisipasi hal-hal yang mencurigakan.
“Pemeriksaan ATM biasanya hanya satu kali,saat ini ditingkatkan menjadi dua kali. Regular checkingdilaku kan untuk memverifikasikan dan mengiden-tifikasikan tiap-tiap ATM di sejumlah kawasan yang disinyalir terjadi pembobolan,”ujar Felia di Jakarta kemarin.
Pembobol ATM tanpa tahu kode kodenya tidak mungkin,” ungkap Ito. “Bisa karena keteledoran nasabah yang memberi nomor PIN (personal identification number),” imbuhnya. Dari hasil penyidikan sementara dan dilihat dari modus operandi yang dilakukan pelaku diduga lebih satu orang. Menurut dia, modus yang dilakukan merupakan cara lama,yakni menggunakan PIN milik nasabah. Meski demikian tidak menutup kemungkinan adanya pemasangan alat di mesin ATM. Jenderal polisi bintang tiga ini menjelaskan, modus yang dilakukan yakni memasang alat skimming (gesek) di mulut ATM.
Modus lainnya yakni dengan memakai alat yang bisa menyerap PIN atau taping (merekam). Caranya pelaku berpura-pura antre di belakang dan beraksi setelah nasabah selesai menggunakan PIN nya. Beberapa waktu lalu belasan nasabah perbankan di Bali termasuk warga negara asing mengaku rekeningnya dibobol. Kerugian mencapai miliaran rupiah. Kasus pertama diketahui pada 16 Januari 2010 lalu.
Diduga masih banyak nasabah yang belum melaporkan kasus pembobolan dana rekening melalui ATM ini. Sedangkan untuk langkah antisipasi, Polri dalam waktu dekat mengagendakan pertemuan dengan otoritas perbankan untuk membuat suatu sistem pengamanan baru. Salah satunya membahas pemindaian sidik jari untuk mengakses ATM. ”Sehingga tidak ada lagi yang dititipkan PIN-nya. Yang akan merugikan kita,”kata Ito. Terkait kedatangan perwakilan Bank Central Asia (BCA) Dwi Arini ke Bareskrim, Ito menjelaskan, kedatangannya untuk bekerjasama dengan Polri.
”Itu undangan dari kepolisian, karena masalah ini banyak menimpa nasabah BCA, selain mempelajari modus operandinya bersama mereka juga mengaudit sistem pengamanan di alat ATM milik mereka, ”ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, mereka sangat kooperatif bahkan sudah ada jaminan penggantian dari pihak BCA yang diakibatkan oleh kejahatan ini.”Mereka akan memberikan jaminan penggantian jangan sampai ada lost trust (kehilangan kepercayaan) kita berharap sesegara mungkin dapat mengungkap itu,”kata Ito.
Pihaknya juga akan menyampaikan kelemahan-kelemahan dalam sistem yang memungkinkan ini dimanfaatkan untuk membobol ATM. Disinggung soal keterlibatan mafia dari Rusia, Ito mengaku masih melakukan pengembangan dan membuka data-data lama. Sebab, sebagian dari mafia Rusia sudah dikeluarkan. ”Sebagian pelaku-pelakunya kita pelajari karena modus operandinya sama dengan yang lama.
Maka dilakukan operasi kembali. Apakah ada keterlibatan mereka dalam kasus pembobolan dana nasabah yang terjadi di Bali. Itu sudah lama,kami coba lihat keterkaitannya dengan modus di Bali. Kita menyelidiki sama-sama dengan pihak bank,”katanya. Kemarin Bareskrim Mabes Polri juga menerima dua laporan dari Jakarta tentang kasus pembobolan rekening.
Dua nasabah yang mengaku uangnya raib tersebut masing-masing sebesar Rp70 juta dan Rp56 juta. Dari hasil penyidikan penarikan dilakukan di Bali dan Medan,Sumatera Utara. Lebih jauh dia mengimbau kepada para nasabah yang memiliki rekening di ATM bank-bank tertentu untuk melakukan pengecekan saldo sekarang. Jika ada transaksi atau penarikan yang mencurigakan segera dilaporkan.Sehingga bisa dilakukan langkah-langkah untuk mempelajari modusnya.
Kapoltabes Denpasar Komisaris Besar Polisi Gede Alit Widana mengatakan,pihaknya sudah menyita skimmer dari sejumlah ATM di Denpasar dan Kuta.“Rata-rata ATM yang dipasangi skimmer tidak dijaga satpam ataupun dilengkapi CCTV (close circuit television),”katanya kemarin. Widana menduga skimmer itu dipasang pelaku pada malam hari saat kondisi ATM sudah sepi.
Dengan alat semacam chip ditambah kamera pengintai itu, pelaku dapat mendeteksi gerakan jari nasabah saat menekan nomor PIN.Setelah mendapat data,pelaku kemudian mencetak kartu ATM palsu dan membobolnya. Melihat modus itu, Widana memastikan pelaku tidak beraksi sendirian, melainkan sebuah sindikat. Ditanya apakah pelaku satu jaringan dengan sindikat pembobol kartu ATM di sejumlah negara seperti Australia, Rusia dan Kanada,Widana belum bisa memastikan.
“Kita masih selidiki apakah ini sindikat internasional,” imbuh dia. Perwira Polisi melati tiga ini menambah kan, dari 15 laporan yang masuk, 14 laporan di antaranya dinyatakan sebagai kasus pembobolan dengan total jumlah kerugian mencapai Rp522,3 juta. Selain di Denpasar dan Kuta, kasus pembobolan itu juga menimpa nasabah di Gianyar dan Klungkung. Di Bali, Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah nasabah yang menjadi korban pembobolan rekening bank mencapai 200 nasabah dengan total kerugian mencapai Rp2 miliar.
Pimpinan BI Denpasar Jeffrey Kaiurupan dalam keterangan persnya, kemarin mengatakan kasus pembobolan dana nasabah di Bali terjadi di enam bank, yaitu BCA, BNI, Bank Mandiri, Bank Permata, BII dan BRI.“Paling banyak ditemukan di BCA,mencapai 55 kasus,”katanya. Seperti dugaan polisi, Jeffrey menduga kasus pembobolan dana nasabah itu dilakukan menggunakan sistem skimming. Dengan sistem itu, pelaku bisa merekam PIN nasabah. Selanjutnya pelaku mentransfer ke rekening lain melalui internet.
Bank Lengkapi Anti- Skimming
Untuk mengantisapasi pembobolan lagi, beberapa perbankan kini mulai melengkapi mesin ATMnya dengan alat anti-skimming. Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Felia Salim mengatakan, sejak kemarin malam petugas ATM Regional Center (ATMRC) BNI telah melakukan pemeriksaan di seluruh ATM perseroan, untuk mengantisipasi hal-hal yang mencurigakan.
“Pemeriksaan ATM biasanya hanya satu kali,saat ini ditingkatkan menjadi dua kali. Regular checkingdilaku kan untuk memverifikasikan dan mengiden-tifikasikan tiap-tiap ATM di sejumlah kawasan yang disinyalir terjadi pembobolan,”ujar Felia di Jakarta kemarin.
No comments:
Post a Comment